Bag 6 dari 6 cerita
sambungan 5

"Zami !!!" Suaraku tertahan melihat sosok tampan muncul dari semak-semak dan berjalan ke arahku.
"Ela, akhirnya kamu berjilbab seperti yang kukatakan dulu." Perlahan Zami menyentuh pundakku. Aku menepisnya halus.
"Jadi...... Kamu.......... Adalah...........
"Ela........ Ela.. " Rita datang dengan nafas tersenggal-senggal.
"Rizal........... El, Rizal........"
"Ada apa dengan Rizal ?" Seruku penasaran.
"Rizal pindah dari sekolah ini dan sekarang dia lagi berangkat ke Stasiun." Ucap Rita buru-buru, kemudian aku dan Rita bergegas menuju ke Stasiun.
Setiba di Stasiun, aku dan Rita sibuk mencari sosok Rizal di antara berjubelnya calon penumpang, dan ketika kami tidak sengaja melihatnya, kemudian
"Rizal......... !!" Panggil kami bersamaan, lalu kami berlari menghampirinya.
"Zal, kenapa kamu harus pergi meninggalkan kami ? kenapa Zal ?" tanyaku dengan nafas memburu.
"Ini sudah keputusanku Ela, aku akan pergi ke pesantren dan mendalami ilmu agama,"
kemudian kami diam sejenak.
"Oh, iya Ela........ ini..............."
Rizal merogoh ranselnya dan memberikan Dydy kepadaku.
"Sejenak memakai jilbab, kamu melupakan ini, to Ririku." kata Rizalsambil tersenyum.
Bibirku bergetar, tanpa terasa air bening menetes di pipiku.
"Mu........... sa............. fir..............
Cin........ ta............ " Ucapku lirih.
"Tut...... tut.........." Suara kereta api mulai berberak. Rizal melambaikan tangannya dari pintu gerbang, aku membalas lambaiannya sambil mengusap air mata, hingga kereta api itu tampak mengecil dan hilang sama sekali dari pandangan.
Kemudian ku buka Dydyku, disana terukir bait-bait kata :

Setiap kata yang terucap
Setiap kata yang terhempas
Setiap rindu yang membara
Dan jantung yang berdenyut
Semuanya karena cinta
Karenalah tersemayam namamu dalam sukma

Selesai

Di ambil dari karangan Isabella
Madani MAN 1 Jombang
Periode 2005-2006

Bag 5 dari 6 cerita

Sambungan 4

Kesekian kalinya kudapatkan lembaran putih dari Musafir cinta. Kulirih Rizal di bangku pojoknya, dia sedang asyik menikmati buku sejarahnya, sampai kini Rizal tak menebarkan senyumannya padaku. Sedangkan si kiyut Roy, juga gak pernah lagi show, membacakan puisi didepanku. Aku menghela nafas berat, menyadari kejadian kemarin. Aku begitu naif, sehingga aku begitu mudah terbakar emosi.
Kudekati Rizal yang sedang terpekur di bangku.
"Zal, soal kemarin.... maafin aku ya?"
Tanpa mengalihkan pandangannya, Rizal hanya menjawab singkat,
"He....em". Dengan hembusan nafas.
Tanpa basa-basi lagi, aku menghampiri Rita yang mengajakku ke perpustakaan.
"Ssstt.......... sst.......... " Suara seseorang dari balik rak-rak buku mengagetkanku. Aku memicingkan mata, sosok itu mengulurkan secarik kertas di antara buku-buku di rak perpustakaan.
"Dari siapa Ela?" Tanya Rita
"Ndak tau, la wong cuma kelihatan matanya saja, dan setelah aku cari orang itu, ternyata sepi, ndak ada siapa-siapa, aneh......" Ucapku heran.
Kemudian aku mulai membuka kertas itu dan membacanya.

To : Ririku.......

Lindungilah dirimu
Yang penuh mempesonaku
Ketika kau menemukanku
Sebutlah namaku

From : Musafir Cinta

Satu nama tergenang dibenakku, "Musafir cinta, walau aku belum tahu tentang dirimu, namun hatiku mendapat Hidayahnya pada sosok musafir untuk diriku, dengan cahaya cintanya.
Dalam sujudku semalam, aku benar-benar merenungi hal ini, dan aku kini mantap mengenakannya. Aku mematut diri di cermin, Ela yang dulu tampil dengan rambut tergerai, kini tampil semakin anggun dengan jilbab putih. Sejenak aku terkejut, karena ibu sudah menantiku di pintu kamar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putri semata wayangnya.
"Cantikkan bu ?"
"Iya , cantik sekali, " jawab ibuku sambil membelai kepalaku, kemudian aku mencium punggung tangan ibu.
Hari ini Rita sudah menjanjikan padaku untuk mempertemukanku dengan sang musafir cinta.
"Nah, kamu tunggu di sini aja ya ? pokoknya siapa orang yang menemuimu disini, itulah musafir cinta." Ucap Rita
Kemudian Rita pergi meninggalkan aku sendiri di taman sekolah yang jarang di kunjungi siswa-siswi SMU Pelita, hanya aku dan Rita yang tahu.
"Sreg...... sreg....... " Tiba-tiba rumput ilalang di depanku bergerak-gerak.
"Hai ! siapa itu ?" Aku sedikit ketakutan.
Bersambung...........

Di ambil dari karangan Isabella
Madani MAN 1 Jombang
Periode 2005-2006


Bag 4 dari 6 Cerita

Sambungan 3

To : Isabella

Tak ada hari yang indah
Selain hidup bersamamu
Tak ada kata yang indah
Selain kisahmu
Yang telah menghadirkan
Sejuta mawar ditaman hatiku

From : Musafir Cinta

"Hmm........... Puitis banget tuh kata-katanya," Komentar Rita,
"Kira-kira siapa ya Rit?" Kupandangi Rita dengan heran.
"Mungkin aja si raja puisi, siapa lagi kalau bukan si..........."
belum rampung Rita urun suara kemudian aku potong ucapannya
"Roy" !!! Ku panggil si kiyut yang muncul dari pintu, kemudian Roy menoleh tanggap,
"Kamu Musafir Cinta?" Tuduhku ke Roy
"Iya, akulah si musafir cinta, nih, aku lagi buat puisinya," Ucapnya bangga, seraya menunjukkan secarik kertas ke arahku.
"Berarti, kamu donk yang naruh puisi di Diaryku?" Aku todong dia sambil berkacak pinggang dan pasang muka marah.
"Di diary apaan? Enak aja main nuduh sembarangan, jelek-jelek gini, aku juga punya Ela, Diary yang tak kalah bagusnya ama kepunyaanmu !" Balas Roy tak mau kalah.
"Lagian aku nggak tau wujud Diarymu kayak apa, kali aja ada orang lain." Ucap Roy lagi
"Hhh....!" Kuhentakkan kaki.
Aku benci Roy, tega-teganya dia berkelit. Marah bercampur malu, membuat rona wajahku berubah merah padam. karena tanpa dikomando, teman-teman sekelas menyaksikannya, seperti tontonan saja.
Tepukan halus mendarat di pundakku.
"Ela, jangan marah dulu, mungkin benar apa kata Roy, siapa tau........ Ucap Rizal dari belakangku.
"O....... jadi kamu membelanya Zal ??" Ucapku dengan kasar, sambil menghempaskan pantat dikursi, lumayan sakit sih.
"Sudahlah Ela, masalahnya kan cuma itu, jangan melibatkan orang lagi," Seru Rita berusaha menahan emosiku.
"Baik....... Ela...... semoga setelah ini Dydymu tidak akan lari kemana-mana." Ucap Rizal
Rizal berlalu dari hadapanku dengan sedikit marah.
Setiap kali aku masuk kelas, ada sepasang mata yang selalu memperhatikanku.
Dan lagi-lagi aku dapat puisi dari orang misterius itu.

To : Isabella

Saat jiwaku terpaut pada raut indahmu
Di satu mimpi yang panjang
Selalu ada bayang-bayang cintamu
Yang bertabirkan kesucian
Jiwa yang suci adalah jiwa yang terlindung

From : Musafir Cinta

Bersambung.......

Di ambil dari karangan Isabella
Madani MAN 1 Jombang
Periode 2005-2006



Bag 3 dari 6 Cerita

sambungan 2

Rapat berjalan sangat menegangkan, apalagi suasana ruangannya yang terasa pengap dan menggerahkan. Kulirik sekilar Alba dipergelangan tanganku.
"Duh.......... Panas sekali". Tak henti-hentinya aku mengibas-ibaskan tangan ke arah wajahku yang kurasa sudah kumus-kumus dan kusut.
Kupandangi Rita yang tampak begitu tenang dengan jilbabnya yang terulul panjang. Sepertinya dia tidak kegerahan sama sekali. Lagi-lagi aku berangan-angan, aku ingin seperti dia.
"Tuhan......... berikanlah hidayahMU padaku........." ucapku dalam hati.
"Ela, tadi ada yang nitip salam khusus buwatmu". Kata Rita
"siapa Rit?" Ucapku sambil menggerutkan dahi.
"Hmm........ Dari....... siapa lagi kalau bukan si ketua OSIS.
"Eh Rit, kayaknya dia lagi perhatian lho sama kamu !" ucapku memotong pembicaraannya.
"Sorry ya El, sebenarnya dia sudah tiga kali nitip salam ke kamu, tapi aku lupa mau nyampeinnya ke kamu. Dia juga pernah bilang, kamu akan semakin cantik kalau.........." Rita ragu-ragu hendak meneruskan kalimatnya.
"Kalau apa Rit?" Aku tak sabar untuk mendengarkannya.
"Kalau pake' ini," Rita menekan kata-katanya sambil menunjuk jilbab yang dikenakannya, kemudian aku tersenyum samar.
"Terima kasih Rit, sampaikan pula terima kasih ini pada Zami atas semua sarannya padaku,"
Rita hanya tersenyum penuh pengertian. Mungkin dia mengerti perasaanku, akhirnya kami melenggang kangkung di koridor sekolah sambil berceloteh macam-macam.
Kutatap lekat-lekat persegi internit langit-langit kamarku, seakan tergambar jelas disana, wajah Zami, kata-kata Rita tadi siang, masih terngiang ditelingaku. Aku masih berat mengenakannya. Aku tak yakin, dapatkah aku istiqomah memakainya?
Aku menggeliat. betapa nikmatnya kalau lagi capek gini. kemudian aku bangkit dari kasur dan mengambil tas sekolah yang kugantung dibalik pintu. aku ingin curhat sama Dydy.
"Loh.....!!! Dydyku kemana?" ku keluarkan semua buku-bukuku, tapi Dydy tak ada,
"Dydyku hilang, padahal seingat aku tadi sebelum rapat, sudah aku masukkan, kemana Dydyku ya.........??" Gumamku dalam hati
Bus sekolah yang kunaiki berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sejenak saja. Siswa-siswi berhamburan keluar bus. mereka tampak riang dan gembira. tidak seperti aku yang gundah gulana, Dydy kesayanganku belum kutemukan. Dydy teman setiaku sekolah tak ada dalam dekapku.
Aku berjalan gontai memasuki kelas 1A. Sebelum aku sampai dibangku, Zami sempat menyapaku, tapi sapaannya belum dapat mengusir kegundahan yang menderahku. aku duduk termenung sambil menopang dagu.
"Duh, anak cantik, kenapa mesti lesu begitu?, ini kan yang membuat kamu sedih?"
Ucap Rita yang duduk di sebelah aku sambil menyingging senyuman khasnya. wajahku semringah seketika, waktu kedua mataku bersirobok dengan dairy ungu yang disodorkan Rita di atas bangku.
"Rupanya kamu ya Rit yang membawa Dydyku?" Tuduhku tanpa permisi.
"Eit, jangan su'udhon gitu donk, cantik. kemarin Dydymu ini ketinggalan di kolong bangkumu." Ucap Rita sambil mencolek hidungku
"Apa ? tertinggal di kolong bangkuku ?"
Mataku terbelalak spontan, sembari membuka-buka lembaran-lembaran Dydy. Ternyata tak ada yang kurang, tapi........... hey, disana terselip kertas biru muda. kemudian aku segera membukanya. Di ikuti tatapan penuh tanya oleh Rita.

Bersambung.........
Di ambil dari karangan Isabella
Madani MAN 1 Jombang
Periode 2005-2006




bag 2 dari 6 cerita

sambungan 1

Sambil mengangkat alisnya berkali-kali, Roy berkata
"Peace Love" dan berlalu.
"Hhh" Ku hela nafas lega. Entah apa jadinya jika aku harus mendengarkan bait-bait puitis si Roy hingga selesai. Mungkin dinding kelas ini akan retak olehnya. Roy memang selalu mempunyai puisi baru, setiap hari dan selalu di tunjukkannya padaku.
"yah........ semoga dia bisa jadi sastrawan terkenal"
ucapku dalam hati. Anganku kembali bersama Dydyku, kurangkai kata demi kata yang bermakna, luapan isi jiwa.
"Duar...........! asyik banget nih?"
Rita mengejutkanku.
"Aduh... rita........ bikin kaget aja !"
Kutarik hidung mancungnya gemas.
"Afwan deh" kata rita sambil menyatukan kedua telapak tangannya padaku.
"Habisnya kamu serius banget sih, jadinya aku kejutin kamu, hehehehehe"
"Emm dasar" kataku membalas
"Oh ya Ela, habis ini ada rapat Redaksi, nanti sekalian ajak si Rial yah? aku mau kasih tau yang lainnya."
"Iya deh !" Rita beranjak dari hadapanku. Namun mataku masih saja memandanginya hingga menghilang ke luar kelas.
Rita adalah teman sebangku sejatiku yang sangat aku kagumi. Entahlah setiap aku memandangnya, terasa teduh dihati. Mungkin karena jilbabnya lah yang selalu bertengger di kepalanya. Seakan-akan dia terlindungi. Dia juga tergolong sosok muslimah sejati. Aku dapat merasakannya dari sorot matanya yang lembut. Aku ingin seperti dia. tapi.......... Adakah Hidayah itu diberikan padaku? Tanpa kusadari tangan menghalangi pandangan kosongku.
"Ela........... Ela........."
"Eh...... emm eh........ Rizal !"
Aku tergagap. Cowok tinggi besar berwajah cool itu, melempar senyum padaku.
"Dari tadi aku perhatikan, kamu kok nayun aja." katanya sambil meletakkan kedua tangannya ke bangku ku. Aku hanya tersenyum.
"hati-hati lho Ela, orang yang kebanyakan melamun, kemungkinan besar mengidap virus gila lho !" katanya sambil menahan ketawanya
"Hus ! Ngaco kamu" kukibaskan tanganku di udara dan Rizal tertawa terpingkal-pingkal sampai tubuhnya berguncang, setelah tawanya redah, ia meraih Dydy dari tanganku.
"Sini aku baca, kalau kata-katanya tidak sebagus yang aku syaratkan, perjanjian aku akan nraktir kamu batal."
"Trus, dikasih apa donk?" kataku penasaran
"Emm.... tak kasih......... kiss aja deh !"
"Hah....... ih jorok ah !" Ucapku reflek, sambil mendaratkan satu kepalan di lengannya,
"udah deh, bercandanya di stop dulu, rapat Redaksi kan hampir mulai, kita ke kantor OSIS yuk !" Ucapku melenggang keluar disusul Rizal si bule kesasar.
Hubungan antara aku dan Rizal memang sangat akrab, maka tak heran, bila teman-temanku mengira aku ada hubungan khusus dengannya. Namun bagiku, itu bukan masalah serius yang jelas, bagiku Rizal hanya teman baikku yang selalu mengetahui guratan hatiku dalam Dydyku. Tapi, bagaimana dengan perasaan Rizal sendiri? bagaimana kalau dia menganggap lain dari keakraban ini?
Bersambung..........

di ambil dari karangan Isabella
madani MAN 1 JOMBANG
Periode 2005-2006



Bag 1 dari 6 cerita
Siang mentari menebarkan sinar keemasannya ke seluruh alam bersama iringan melodi yang dibawakan oleh burung-burung kecil yang bertengger di pepohonan. Dedaunan pun mulai mengusik titik-titik air yang membasainya. Terasa sejuk sekali. Kini saatnya aku bangkit dari tempat tidurku, untuk memulai kembali aktivitasku. Sentuhan air telah mengembalikan lagi kesegaran tubuhku. Byuuuurr...............
"Ela......... Cepat turun, nak ! Sarapannya sudah siap !"
"Iya, bu !"
Suara ibu dari bawah semakin menambah semangatku. Segera ku sambar tasku. Tak lupa Dydy, si teman kencan dama sepiku selalu menyertai hari-hariku. Tertulis kata-kata indahku disana. Apapun yang terjadi padaku aku takkan sedih, karena Dydy selalu menemaniku.
"Angan hatiku akhirnya berlalu menggantikan ceriaku bersinar mentari."
Jam ke-2 kosong, kesempatan ini digunakan untuk mengisi kehidupan Dydy. Ku buka lembar demi lembar yang telah terisi hingga pada lembar yang masih kosong ku mulai mengukir kata-kata.
"Hai sweet girl ! Gue punya puisi cinta baru. Dengerin ya?"
Tiba tiba saja Roy datang dan naik ke atas bangku, sambil bergaya didepanku.
"Bila cinta bersemi di dada... emm.... terasa tubuh di peluk asmara........ mewangi........ bagai kuncup bunga yang se........
"Hi......... sudah, sudah !!! jangan terusin lagi !"
aku menutup telingaku dengan kedua tanganku.
"Cukup deh Roy ! please !!!"
Roy menghentikan suaranya yang mirip kaleng di seret itu, ketika melihat raut wajahku memelas.
"Eh........ Ela, kamu kenapa?"
" Aku jadi suntuk banget, jadi............. tolong deh?"
"Oke, lain kali dengerin aku lagi yah !"
"He.....eh, he......eh"
Aku menjawab dengan anggukan berkali-kali.

Bersambung......
"Di ambil dari karangan Isabella
madani MAN 1 JOMBANG
periode 2005-2006"



1. Kera apa yang selalu basah?
2. Kera apa yang tidak mau berpindah?
3. Kera apa yang banyak di kunjungi masyarakat jombang?
4. Kera apa yang banyak terdapat orang2?
5. Kera apa yang mau meninggal?
6. Kera apa yang tidak sadar?
7. Kera apa yang dipercaya berbau mistis?
8. Kera apa yang sering muncul di iklan minuman Energi?
9. Kera apa yang suka mencuri uang rakyat?
10.Kera apa yang berbentuk fosil2?


Dijawab ya? aq tunggu komennya?
ok COY.......???

Diberdayakan oleh Blogger.
bookmark
bookmark
bookmark
bookmark
bookmark

Pengunjung Ke

Free Hit Counter

FIFA WORLD CUP 2010

Mengenai Saya

NamaQ Muhammad Wahyudin Arif, Nama Panggilan WAHYU, Kuliah Aq Di STMIK-BU Bahrul'ulum Tambakberas Jombang, Alamat Sumberagung Peterongan Jombang, HobyQ Bwt Cerita ,Nonton Sepak Bola

Followers