bag 2 dari 6 cerita
sambungan 1
Sambil mengangkat alisnya berkali-kali, Roy berkata
"Peace Love" dan berlalu.
"Hhh" Ku hela nafas lega. Entah apa jadinya jika aku harus mendengarkan bait-bait puitis si Roy hingga selesai. Mungkin dinding kelas ini akan retak olehnya. Roy memang selalu mempunyai puisi baru, setiap hari dan selalu di tunjukkannya padaku.
"yah........ semoga dia bisa jadi sastrawan terkenal"
ucapku dalam hati. Anganku kembali bersama Dydyku, kurangkai kata demi kata yang bermakna, luapan isi jiwa.
"Duar...........! asyik banget nih?"
Rita mengejutkanku.
"Aduh... rita........ bikin kaget aja !"
Kutarik hidung mancungnya gemas.
"Afwan deh" kata rita sambil menyatukan kedua telapak tangannya padaku.
"Habisnya kamu serius banget sih, jadinya aku kejutin kamu, hehehehehe"
"Emm dasar" kataku membalas
"Oh ya Ela, habis ini ada rapat Redaksi, nanti sekalian ajak si Rial yah? aku mau kasih tau yang lainnya."
"Iya deh !" Rita beranjak dari hadapanku. Namun mataku masih saja memandanginya hingga menghilang ke luar kelas.
Rita adalah teman sebangku sejatiku yang sangat aku kagumi. Entahlah setiap aku memandangnya, terasa teduh dihati. Mungkin karena jilbabnya lah yang selalu bertengger di kepalanya. Seakan-akan dia terlindungi. Dia juga tergolong sosok muslimah sejati. Aku dapat merasakannya dari sorot matanya yang lembut. Aku ingin seperti dia. tapi.......... Adakah Hidayah itu diberikan padaku? Tanpa kusadari tangan menghalangi pandangan kosongku.
"Ela........... Ela........."
"Eh...... emm eh........ Rizal !"
Aku tergagap. Cowok tinggi besar berwajah cool itu, melempar senyum padaku.
"Dari tadi aku perhatikan, kamu kok nayun aja." katanya sambil meletakkan kedua tangannya ke bangku ku. Aku hanya tersenyum.
"hati-hati lho Ela, orang yang kebanyakan melamun, kemungkinan besar mengidap virus gila lho !" katanya sambil menahan ketawanya
"Hus ! Ngaco kamu" kukibaskan tanganku di udara dan Rizal tertawa terpingkal-pingkal sampai tubuhnya berguncang, setelah tawanya redah, ia meraih Dydy dari tanganku.
"Sini aku baca, kalau kata-katanya tidak sebagus yang aku syaratkan, perjanjian aku akan nraktir kamu batal."
"Trus, dikasih apa donk?" kataku penasaran
"Emm.... tak kasih......... kiss aja deh !"
"Hah....... ih jorok ah !" Ucapku reflek, sambil mendaratkan satu kepalan di lengannya,
"udah deh, bercandanya di stop dulu, rapat Redaksi kan hampir mulai, kita ke kantor OSIS yuk !" Ucapku melenggang keluar disusul Rizal si bule kesasar.
Hubungan antara aku dan Rizal memang sangat akrab, maka tak heran, bila teman-temanku mengira aku ada hubungan khusus dengannya. Namun bagiku, itu bukan masalah serius yang jelas, bagiku Rizal hanya teman baikku yang selalu mengetahui guratan hatiku dalam Dydyku. Tapi, bagaimana dengan perasaan Rizal sendiri? bagaimana kalau dia menganggap lain dari keakraban ini?
Bersambung..........
di ambil dari karangan Isabellamadani MAN 1 JOMBANG
Periode 2005-2006







weh crito ae rek...
ok rekkkkk
halah crito ae bocah iki
Zustin : ya biarin aku emang pengen tmpil beda ja