Sambungan 4
Kesekian kalinya kudapatkan lembaran putih dari Musafir cinta. Kulirih Rizal di bangku pojoknya, dia sedang asyik menikmati buku sejarahnya, sampai kini Rizal tak menebarkan senyumannya padaku. Sedangkan si kiyut Roy, juga gak pernah lagi show, membacakan puisi didepanku. Aku menghela nafas berat, menyadari kejadian kemarin. Aku begitu naif, sehingga aku begitu mudah terbakar emosi.
Kudekati Rizal yang sedang terpekur di bangku.
"Zal, soal kemarin.... maafin aku ya?"
Tanpa mengalihkan pandangannya, Rizal hanya menjawab singkat,
"He....em". Dengan hembusan nafas.
Tanpa basa-basi lagi, aku menghampiri Rita yang mengajakku ke perpustakaan.
"Ssstt.......... sst.......... " Suara seseorang dari balik rak-rak buku mengagetkanku. Aku memicingkan mata, sosok itu mengulurkan secarik kertas di antara buku-buku di rak perpustakaan.
"Dari siapa Ela?" Tanya Rita
"Ndak tau, la wong cuma kelihatan matanya saja, dan setelah aku cari orang itu, ternyata sepi, ndak ada siapa-siapa, aneh......" Ucapku heran.
Kemudian aku mulai membuka kertas itu dan membacanya.
To : Ririku.......
Lindungilah dirimu
Yang penuh mempesonaku
Ketika kau menemukanku
Sebutlah namaku
From : Musafir Cinta
Satu nama tergenang dibenakku, "Musafir cinta, walau aku belum tahu tentang dirimu, namun hatiku mendapat Hidayahnya pada sosok musafir untuk diriku, dengan cahaya cintanya.
Dalam sujudku semalam, aku benar-benar merenungi hal ini, dan aku kini mantap mengenakannya. Aku mematut diri di cermin, Ela yang dulu tampil dengan rambut tergerai, kini tampil semakin anggun dengan jilbab putih. Sejenak aku terkejut, karena ibu sudah menantiku di pintu kamar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putri semata wayangnya.
"Cantikkan bu ?"
"Iya , cantik sekali, " jawab ibuku sambil membelai kepalaku, kemudian aku mencium punggung tangan ibu.
Hari ini Rita sudah menjanjikan padaku untuk mempertemukanku dengan sang musafir cinta.
"Nah, kamu tunggu di sini aja ya ? pokoknya siapa orang yang menemuimu disini, itulah musafir cinta." Ucap Rita
Kemudian Rita pergi meninggalkan aku sendiri di taman sekolah yang jarang di kunjungi siswa-siswi SMU Pelita, hanya aku dan Rita yang tahu.
"Sreg...... sreg....... " Tiba-tiba rumput ilalang di depanku bergerak-gerak.
"Hai ! siapa itu ?" Aku sedikit ketakutan.
Bersambung...........
Di ambil dari karangan Isabella
Madani MAN 1 Jombang
Periode 2005-2006
Di ambil dari karangan Isabella
Madani MAN 1 Jombang
Periode 2005-2006







0 komentar